“Musim
kemarau, seharusnya tidak terjadi di bulan ini, aku tidak tega melihat daun-daun
gugur di hempas angin, terhanyut di atas kerikil-kerikil gersang bercadas, pun
pohon dan ranting kian kurus bagai babu tak di urus, kenapa begitu gersang,
kenapa semua ini bisa terjadi?” padahal
di negeri asalku air melimpah ruah, awan yang mengepul menyulap menjadi
mendung, seketika butiran air membasahi negriku, apakah ini yang dinamankan
perbedaan iklim, entahlah. Hanya tuhan yang mampu memberikan jawaban yang
tepat, hanya tuhan yang tahu jalan hidupku. Hanya tuhan yang tahu sejuk dan
keringnya hatiku, hanya tuhan yang mampu membolak-balikan hati, mana mungkin
aku bisa memberikan masa depan yang jelas tanpa bantuan dari nya.
Sejak
kepergianya, aku merasa sangat kehilangan, setiap kenangan masih lekat dan
terpatri di album memori, entah apa yang membuatku selalu mengingatnya, padahal
aku sudah berusaha untuk menyibukan diri, agar aku tidak mengingatnya, bukan
maksudku untuk melupakan, tapi aku hanya ingin membebaskan sejenak tentang
album kenangan, karna terasa mengharukan, rasanya aku ingin dia tetap bersama,
sampai perjuangan berakhir, dan memulai perjuangan lagi, entahlah, mungkin
karna pertemuan maka ada perpisahan, rasanya berat untuk melepasnya, dulu kau
yang selalu menghibur, setiap aku sedih, dulu kau selalu usil dan membuatku
jengkel, dulu kau yang membuatku semangat saat aku jatuh, dan mungkin hampir di
telan kebodohan, tapi kenapa kau meninggalkan kami semua, sungguh aku
merindukanmu, aku tidak tahu secara pasti apa tujuan dan cita-citamu, tapi yang
aku harapkan kau sukses di luar sana dan tidak melupakan kita semua, semoga
tidak lemah di luar sana, semoga cita-citamu tercapai, dan membuatku tersenyum
karna melihat kesuksesanmu, kau akan aku simpan di lembaran hidupku, di
lembaran perjuangan, di lembaran persahabatan, atau bahkan di lembaran
persaudaraan, yah, mungkin semua itu akan terjawab saat waktunya telah tiba,
waktu yang akan mengembalikan kebersamaan, waktu yang akan mengembalikan canda
tawa, walaupun nuansa yang berbeda, aku harap ini bukan derita yang terus
memanjang sepanjang perjalanan hidup yang fana.
Sudah
hampir satu bulan lebih kau meninggalkan kami, bagaimana keadaanmu?” kadang
setiap aku sendiri ataupun kumpul bersama, tertawa bersama, aku kerap
mencarimu, dan merindukan keusilanmu, tapi biarlah ini semua menjadi kenangan
yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupku, sekali lagi aku ingin mengabsent,
tolong angkat tangan kalian ketika aku memanggil nama kalian, gimana, setuju?”
oke, siiipppp!”ACC.” kita mulai sekarang, celong, hadir!” emon, hadir!” upil,
hadir!” cingur, hadir!” kile’, hadir!” pekak, hadir!” sengklek, hadir!” aspal,
hadir!” kebong, hadir!” lowbet, hadir!” notot, hadir!” jendral, hadir!” inung,
hadir!” batu, hadir!” ahmed, hadir!” enal, hadir!” aley, hadir!” shynea….??”
Tolong jawab, jangan hanya diam?” sekali lagi shynea?” keadaan semakin hening,
kenapa kau mengabsent shynea, salah satu kerabat melontarkan suara rendahnya,
emangnya kenapa?” sahutnya”. Shynea kan sudah tidak bersama kita lagi, dia itu
lemah, dia itu tidak bisa berjuang, dia itu tidak bisa di andalkan, kenapa
harus di pertahankan, kurang apa coba kita, kita sudah berbuat baik dan
mendukungnya untuk tetap bersama kita, kita sudah menasehatinya, tapi apa
kenyataanya, heh” apakah ini yang dinamakan perjuangan, apakah ini yang
dinamakan persahabatan, seharusnya kita berangkat bersama pulang bersama, tapi
kenyataanya dia macet di tengah jalan, aku ingatkan kepada kalian, kita tidak
perlu membahas shynea!” nada sengitnya dengan suara membumbung”. Keadaan
semakin riuh, saling menyalahkan satu sama lain, berhenti!” salah satu kerabat
menengahi pertikaian, kenapa malah jadi seperti ini, sudahlah, kita tidak perlu
menyalahkan satu sama lain, hidup adalah pilihan, jadi tidak ada salahnya dia
mencari jalan yang lain untuk masa depanya, hanya sekarang ini kita tidak
bersama denganya, aku yakin dia tidak lemah, dia jiwa pejuang, dia mempunyai
talenta untuk berjuang di dunia terbuka, dan aku yakin dia tidak akan melupakan
kita semua, dia berhak memilih jalan hidupnya, aku rasa kita lebih dari cukup
memberikan yang terbaik kepadanya, yang terpenting kita tidak bermusuhan satu
sama lain, tidak terputus tali persaudaraan, sudahlah jangan di sesali dan di
permasalahkan, kita saling mendoakan semoga kita sukses semua, baik kita
ataupun syhnea, dan semoga kita bisa bertemu kembali dan berbagi tentang
penglaman hidup, dan tertawa bersama, Suatu saat nanti”. Aku harap kalian semua
bisa memahami perkataanku!” tegasnya salah seorang kerabat.” Berontak salah
satu kerabat lainya, ada apa denganmu?” kenapa kau membela shynea, jelas-jelas
shynea kalah, kenapa kau harus mendukungnya, coba di telaah secara mendalam,
kita ini sedang berperang, berperang melawan kebodohan, tapi dia berhenti di
tengah jalan, bukankah hal itu sama dengan pecundang.” Dengan suara lantang
melontarkan pendapatnya.” Hey, kenapa kalian menghina dan melecehkanya,
bukankah syhnea teman kalian juga, ada apa dengan kalian!” apakah dia sejahat
yang kalian pikirkan, apakah dia bukan teman kalian lagi, apakah pertemanan
yang sudah kalian ikat erat selama dua tahun lebih, kalian putus dengan belati
yang terasah, begitu besarkah kesalahnya, apakah dia tidak berperang di luar
sana, ketika dia tidak berperang bersama kita, aku yakin dia juga berperang di
luar sana.” Ada satu hal yang harus kalian ingat, kita semua ataupun dia,
seyogyanya adalah berperang, hanya saja kita mendapatkan ruang dan waktu yang
berbeda, dan perlu kalian ingat juga ketika shynea mengatakan sesuatu kepada
kita semua, tepatnya “Tanggal Sembilan
Bulan Sembilan” kita harus tetap berjuang dimanapun kita berada, jangan
sampai kita putus persahabatan, dan apakah kalian juga masih ingat, itu adalah
musim Sembilan-sembilan, musim kesedihan kita bersama, musim yang mengharukan
disaat kita berpisah dengan sahabat kita, rasanya berat untuk melepaskan
sahabat yang sudah sangat akrab dengan kita, walaupun sekeras-kerasnya prilaku
kita, kadang kita terenyuh dan meneteskan air mata, itu karna kebersamaan dan
kekompakan kita semua, aku, dia ataupun kalian semua berhak menentukan pilihan,
dengan seizin tuhan, percayalah suatu hari nanti kita akan berkumpul bersama,
bertemu kembali, tentunya dengan keadaan yang berbeda pula, aku harap kita mengkaji
semua yang terjadi kepada kita semua, karna semua itu pasti ada hikmahnya,
tuhan lebih mengetahui apa yang ada di dalam ataupun di luar manusia, jadi
sudahlah, kita serahkan semua urusan
kepada tuhan yang maha esa, dan tentunya kita tidak menyalahkan satu sama lain,
bagaimana, apakah kalian setuju dengan apa yang aku ucapkan barusan?” deal or
no deal?” kami pun saling menoleh kanan dan kiri, kami mulai mengamati wajah
kami satu sama lain, sangat tegang, kaku, di makan oleh keadaan dan ulah kita
barusan, senyuman terlihat dari sudut kesudut kemudian melebar dan tertawa
terbahak-bahak, melingkar dan menjulurkan tangan tanda kekompakan. Semangat…!!!”